Bahasa daerah di Indonesia sangat terancam punah, itulah faktor pemicunya

Rate this post

Keberadaan bahasa daerah di Indonesia semakin terpinggirkan. Bahkan beberapa bahasa daerah terancam punah karena minimnya penutur.

Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menunjukkan setidaknya ada 11 bahasa daerah yang punah.

Semuanya berasal dari Indonesia Timur yaitu Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara.

Kepunahan suatu bahasa tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui proses yang panjang.

Sebelum suatu bahasa akhirnya dinyatakan punah, ia melewati tahapan-tahapan yang berpotensi terancam punah

, terancam punah, sangat terancam punah, sekarat, dan punah.

Baca juga: Mengapa Bahasa di Dunia Berbeda?

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Menurut Cece Sobarna, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, ada beberapa faktor yang membuat bahasa daerah di Indonesia terancam punah.

Dikutip dari laman resmi Universitas Padjadjaran

, Sabtu (24/7/2021), ia mengatakan ada anggapan bahwa penggunaan bahasa daerah merupakan simbol keterbelakangan dan kemiskinan.

Sementara itu, kaum muda sering mendapat kesan bahwa tidak ada bahasa gaul ketika seseorang menggunakan bahasa nasionalnya.

“Asumsi itu tentu mengkhawatirkan jika terjadi terus menerus karena penutur pada akhirnya akan melepaskan bahasa daerahnya,” kata Cece.

Faktor lain yang dapat menyebabkan bahasa daerah terancam punah di Indonesia

adalah anggapan bahwa bilingualisme dapat menghambat proses pendidikan anak.

Baca juga: Mengapa Nama Ilmiah Menggunakan Bahasa Latin?

Ilustrasi IndonesiaShutterstock Ilustrasi Indonesia

Anak-anak yang berbicara lebih dari satu bahasa menghambat kemajuan proses pendidikan.

“Nah, itu yang perlu diperjelas, bukan seperti itu,” kata ketua program doktor bidang sastra FIB Unpad ini.

Penyebab lain punahnya bahasa daerah adalah persaingan bahasa daerah dengan bahasa nasional dan bahasa asing.

Hal ini tidak dapat dihindari karena kita saat ini berada di era globalisasi. Namun, menurut Cece, kecintaan terhadap budaya harus tetap dilestarikan.

Karena itu, ia menyayangkan menyebut beberapa tempat di Indonesia yang menggunakan istilah asing, seperti “pasar” untuk pasar atau “taman” untuk taman.

Baca juga: Kembali ke Cilacap, Benarkah Nama Kota Ngapak Ini Berasal dari Bahasa Sunda?

Ini bisa menjadi ancaman bagi bahasa lokal, menurut Cece.

“Sebetulnya cukup mengkhawatirkan karena gejalanya lambat terasa. Tapi kalau tidak dijaga, bahasa daerah bisa jadi artefak,” ujarnya.

Ia juga berharap seluruh lapisan masyarakat dapat membantu mencegah punahnya bahasa daerah, termasuk melalui lembaga pendidikan.

“Pendidikan berperan penting dalam mencegah bahasa daerah punah. Pendidikan juga dapat membuat generasi muda lebih tertarik untuk menggunakannya,” kata Cece.

LIHAT JUGA :

serverharga.com
wikidpr.id
riaumandiri.id
dekranasdadkijakarta.id
finland.or.id
cides.or.id